Piala Dunia Tenis Meja 2020 putra dan putri sukses digelar di Weihai, China, tepatnya di Weihai Nanhai Olympics Center, sejak 8 sampai 15 November 2020.

Dua petenismeja China, Chen Meng dan Fan Zhendong, jadi yang terbaik dalam Piala Dunia Tenis Meja 2020.

Baca juga: MENYAMBANGI MARKAS TIMO BOLL DI JERMAN, SIMAK KESERUANNYA

Turnamen tersebut jadi gawean pertama ITTF setelah delapan bulan berhenti karena pandemi virus corona. Ajang ini seperti oase bagi para atlet dunia.

Meski demikian, salah satu kunci dari kesuksesan Piala Dunia 2020 itu adalah sistem ‘bubble’ yang diterapkan di event tersebut, di kawasan Weihai Nanhai Olympics Center.

Penulis beranggapan, bubble ini menjadi penyelamat pagelaran Piala Tenis Meja 2020, sehingga tidak saja dilakoni atlet dan kontingennya, tapi juga penggemar mereka dan olahraga ini.

Patrick Franziska berlatih mandiri saat menjalani karantina di kamar hotel jelang Piala Dunia Tenis Meja. (Dok. ITTF)

Istilah bubble ini populer di masa wabah Covid-19. Sejumlah penyelenggara kegiatan olahraga kerap menyebut bubble sebagai istilah yang digunakan sebagai bagian dari protokol kesehatan terkait virus corona.

NBA 2019/2020, MotoGP 2020, hingga Formula 1 2020 juga menggunakan bubble ketika melanjutkan kompetisi atau menggelar balapan di masa pandemi.

Kompetisi sepak bola di liga-liga Eropa juga menggunakan sistem ini. Tetapi, karena pertandingan sepak bola tidak berlangsung lama, bubble ini tidak kentara terlihat.

Baca juga: BORUSSIA DUSSELDORF JUARA PIALA JERMAN 2021

Dengan bubble, aktivitas orang-orang yang terkait di dalam event tersebut begitu terbatas. Alasan utamanya mencegah penyebaran virus yang bisa mengancam kelangsungan acara itu.

Maklum, salah satu syarat agar ajang-ajang tersebut bisa digelar adalah protokol kesehatan yang baik yang diminta pemerintah setempat.

Tanpa memiliki protokol yang apik, kompetisi, ajang olahraga lain, bahkan Piala Dunia Tenis Meja 2020 mungkin tidak akan kita lihat cuplikan maupun informasinya.

Langkah-langkah pencegahan dan pengendalian epidemi yang ketat dimulai sejak pemain tiba di China, di bandara, atau bahkan sebelum itu.

Tos bet jadi pengganti jabat tangan yang dilarang selama Piala Dunia Tenis Meja. (Dok. ITTF)

Sebelum masuk China, peserta dari luar negeri harus memberikan informasi yang relevan dan memantau kondisi fisiknya setiap hari, menurut laporan Xinhua.

Ketika tiba di Negeri Tirai Bambu, atlet luar negeri itu dimasukkn ke bubble dan harus menjalani karantina yang lebih fleksibel selama 14 hari. Pada periode kedua karantina, para atlet bisa melanjutkan latihan sambil menjalani pemantauan yang ketat.

Di Piala Dunia Tenis Meja 2020, bubble terletak di venue pertandingan Weihai Nanhai Olympics Center. Kawasan tersebut menyediakan semua yang dibutuhkan untuk turnamen tersebut, mulai dari tempat pertandingan, penginapan, hingga sarana latihan.

Dengan sarana dan prasarana yang komplet, penerapan bubble juga begitu mudah. Atlet, kontingen, penyelenggara, maupun tamu undangan tidak perlu keluar area sport center itu.

Baca juga: Pembinaan Tenis Meja di Jepang, Bisa Ditiru Indonesia

Menurut Qilu.com, Weihai Nanhai Olympics Center ini merupakan home base timnas China. Bangunan utama memiliki luas konstruksi 66 ribu meter persegi dengan kapasitas 4 ribu kursi, sesuai dengan standar Olimpiade dan broadcast internasional.

Fasilitas yang tersedia di sport center itu adalah: gedung pertandingan, tempat latihan, hotel pendukung, youth hall, dan bangunan lain sebagai fasilitas tambahan.

Komponen-komponen itu sangat mendukung penyelenggaraan Piala Dunia Tenis Meja 2020, di mana orang-orang yang terlibat di dalamnya tanpa perlu keluar bubble.

Tidak hanya itu, protokol dasar pencegahan juga wajib dijalankan semua komponen. Misalnya, usai pertandingan yang digelar tertutup untuk penonton itu, para atlet hanya perlu saling menyapa dengan mengangguk daripada berjabat tangan.

Robot disinfeksi digunakan di bubble dalam pagelaran Piala Dunia Tenis Meja. (Dok. Xinhua)

Mereka juga harus mengenakan masker wajah dan menjaga jarak sosial selama kompetisi berlangsung. Guna menjamin kebersihan, empat robot disinfeksi digunakan di hotel dan tempat pertandingan. Dengan begitu penyebaran virus bisa dikendalikan.

Pelayanan plus-plus diberikan penyelenggara guna menghindari kejenuhan yang dirasakan sehingga bisa merusak psikologis mereka ketika bermain.

Salah satunya membeli kue dan memberikan hadiah ulang tahun kepada mereka yang merayakan hari lahir di sepanjang pelaksanaan turnamen. Hal itu guna menunjukkan keramahan penyelenggara kepada pemain dari luar negeri sekaligus tindakan mencegah penyebaran virus.

Kesuksesan bubble itu membuat pagelaran Piala Dunia Tenis Meja 2020 berjalan lancar. Di kategori putri, Chen Meng keluar sebagai pemenang dengan usai mengalahkan rekan senegaranya, Sun Yingsha 4-1, Selasa (15/11). Sedangkan Mima Ito dari Jepang di peringkat ketiga setelah mengalahkan Han Ying 4-0 dari Jerman.

Sementara itu, di kategori putra Fan Zhendong juga mengalahkan kompatriotnya Ma Long, 4-3, Minggu (15/11). Sedangkan Tomokazu Harimoto dari Jepang meraih peringkat ketiga usai mengalahkan Jang Woojin 4-3 dari Korea Selatan.

Baca juga: MEDIA SOSIAL TENIS MEJA MANIA (TMM)

Akan tetapi, penulis belum menemukan referensi lain mengenai seberapa ketat protokol kesehatan di dalam bubble Piala Dunia Tenis Meja 2020 itu sendiri.

Sebagai perbandingan, di masa pandemi NBA 2019/2020 berlanjut di kompleks olahraga Walt Disney ESPN di Orlando, dikutip dari CNNIndonesia.com. Mereka yang terlibat di event itu tidak boleh keluar tanpa alasan khusus dari Walt Disney selama beberapa bulan.

Beberapa alasan yang bisa dipakai untuk meninggalkan bubble tersebut adalah: kelahiran anak, anggota keluarga yang meninggal, hingga keadaan darurat medis atau pribadi lainnya.

Media peliput NBA 2020 juga ikut dalam aturan bubble itu. Bahkan, terdapat dua level media peliput, grade A dan B. Grade A memiliki eksklusivitas yang baik, bisa bertemu langsung dengan pemain dan tim, namun harus bayar mahal. Yang murah di grade B, cuma liputan di arena pertandingan saja.

MotoGP dan Formula 1 juga punya bubble, tetapi enggak seperti NBA atau Piala Dunia Tenis Meja yang dalam satu kawasan. Bubble di MotoGP 2020 dan Formula 1 2020 nyaris sama. Umumnya, pembalap, tim, atau penyelenggara hanya boleh beraktivitas dari hotel dan sirkuit saja.

Bubble tidak saja berlaku di Weihan. Demi menyukseskan sejumlah agenda, ITTF menggelar ITTF Finals 2020 di Zhengzhou, 19 hingga 22 November 2020. Usai berjuang di Piala Dunia Tenis Meja, para atlet tersebut tampil di ITTF Finals 2020 di Zhengzhou Olympic Sports Center.

Alasan utama bagi ITFF dengan menunjuk dua kota di China sebagai tuan rumah event besar tersebut tentu saja karena kondisi yang memadai di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini.

Selanjutnya, bintang-bintang tenis meja dunia itu berlanjut mengikuti World Table Tennis 2020 di Makau mulai 25 sampai 29 November di Tap Seac Multisport Pavilion.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *