Suasana pertandingan Liga Jerman

Oleh: Lilik Hanafi

Pada bulan November 2013, saya mengikuti kursus singkat selama tiga minggu di Amsterdam, Belanda. Kesempatan ini saya manfaatkan untuk mendapatkan pengalaman baru di tenis meja. Saya menyempatkan bermain di salah satu klub di Amsterdam, dan menyaksikan pertandingan tenis meja Liga Belanda di Rotterdam. Belanda dan Jerman yang berbagi perbatasan mengusik pikiran saya untuk menyeberang ke Jerman, negara tenis meja nomor satu di Eropa.

KESEMPATAN LANGKA

Pada saat berlangsungnya kursus, sebenarnya sedang berlangsung turnamen ITTF World Tour German Open 2013 di Berlin. Akan tetapi karena beberapa hal, saya mengurungkan niat untuk menyaksikan langsung turnamen tersebut. Sebagai gantinya saya berencana melihat satu pertandingan tenis meja Bundesliga. Pilihan jatuh pada pertandingan antara Borussia Dusseldorf vs TTC Matec Frickenhausen. Pertandingan ini terjadwal pada hari minggu, 24 November 2013. Harapan saya bisa menyaksikan partai seru antara Timo Boll (Borussia Dusseldorf) vs Koki Niwa (TTC Matec Frickenhausen). Akan tetapi, rupanya Koki Niwa sedang mengikuti ITTF Russia Open sehingga absen membela klubnya.

Menggunakan kereta cepat Intercity Express (ICE), Amsterdam-Dusseldorf (226 KM), hanya ditempuh kurang dari 2,5 jam. Dari Dusseldorf Hauptbahnhof (Central Station), perjalanan kemudian dilanjutkan dengan tram nomor 709 menuju Gerresheim. Berhenti di Burgmullerstrasse, sampailah saya di ARAG CENTER COURT, di Ernst-Poensgen-Allee 58 Dusseldorf. ARAG Center merupakan kandang dari klub tenis meja no.1 Jerman, Borussia Dusseldorf.

Suasana pertandingan Liga Jerman
Dok. Pribadi

ARAG CENTER & DTTZ

Sampai di ARAG Center waktu menunjukkan pukul 11.30 CET (Central European Time) atau sekitar pukul 17.30 WIB. Suasana masih sepi, beberapa pegawai klub tampak hilir mudik menyiapkan segala sesuatu terkait pertandingan yang akan dimulai pukul 15.00 CET. Komplek ini terdiri dari sporthotel, hall utama yang bisa menampung hingga 80 meja, dan hall khusus untuk venue pertandingan Bundesliga. Dinding gedung didominasi warna merah, dihiasi foto-foto berukuran besar Timnas Jerman ketika meraih medali perak Olimpiade 2012. Komplek ini juga sekaligus sebagai pusat latihan Tim Nasional Jerman, atau Deutsch Tischtennis Zentrum (DTTZ). Tampak tim tamu TTC Matec Frickenhausen sedang berkumpul di kafetaria.

Petugas resepsionis yang sekaligus loket tiket mengatakan, loket baru akan dibuka pukul 13.30 CET. Satu per satu pemain Borussia Dusseldorf berdatangan, yang pertama adalah pemain nomor satu India Achanta Sharath Kamal, disusul kemudian Patrick Baum. Tak berselang lama, sosok yang paling ditunggu pun datang, superstar tenis meja Jerman, Timo Boll. Saya pun bergerak cepat menyapa dan mengatakan saya penggemar dari Indonesia. Sang superstar pun membubuhkan tanda tangannya di atas kayu Timo Boll ALC yang saya bawa. Kejutan lain adalah kedatangan rombongan dari Jepang yang dipimpin pemain defender terbaik dunia di eranya, Koji Matsushita.

HARGA TIKET

Setelah itu suasana semakin ramai, supporter mulai berdatangan, hall pertandingan sudah siap sepenuhnya. Tepat pukul 13.30 loket dibuka, harga tiket termurah untuk anak-anak, manula, dan difabel €8,- atau sekitar Rp125.000,-, tiket regular €14,- (Rp225.000,-), tiket VIP €46,- (Rp700.000,-). Tiket VIP mendapat fasilitas kursi khusus, posisi tepat ditengah area pertandingan, plus sajian makanan buffet. Setelah menimbang-nimbang kesempatan yang sangat langka ini, saya memutuskan membeli tiket VIP, agar bisa menikmati pengalaman ini dengan maksimal. Pemegang tiket VIP akan diberikan pita berwarna biru di pergelangan tangan, akan ada petugas khusus yang mengarahkan penonton VIP ke kursi sesuai nama pemegang tiket.

Foto bersama Timo Boll, dok. pribadi

Satu jam sebelum pertandingan dimulai hall tempat pertandingan pun dibuka. Supporter tuan rumah pun segera memasuki ruangan. Tampak pemain Dusseldorf sedang melakukan pemanasan, Timo Boll, Ricardo Walther, Patrick Baum, dan Achanta Sharath Kamal. Area pertandingan menggunakan karpet warna coklat, meja menggunakan Butterfly warna biru dengan penopang bola dunia. Empat kamera siap mengabadikan pertandingan di setiap sudut lapangan.

Setengah jam kemudian giliran pemain tim tamu TTC Matec Frickenhausen melakukan pemanasan. Sayang sekali pada laga kali ini mereka harus tampil tanpa pemain Jepang andalan mereka, Koki Niwa, yang sedang mengikuti ITTF Russia Open. Kali ini tim tamu mengandalkan Juara Nasional Jerman 2013 Steffen Mengel, pemain defender China berpaspor Slovakia, Wang Yang, dan pemain muda Jerman Liang Qiu.

SUASANA PERTANDINGAN

Menjelang pertandingan, tribun penonton reguler penuh. Tribun VIP hanya menyisakan beberapa kursi kosong. Ada juga tribun khusus untuk fans club yang datang mendukung lengkap dengan tetabuhan. Di setiap tempat duduk telah tersedia pompom stick dari Butterfly lengkap dengan alat tiupnya. Biar lebih afdhol saya membeli syal Borussia Dusseldorf di area fanshop. Saya menyempatkan diri berfoto bersama manajer Borussia Dusseldorf, Andreas Preus, yang juga mantan pemain nasional Jerman. Herr Preus selalu setia duduk di belakang meja dengan penampilan khasnya, setelan jas rapi plus syal Borussia Dusseldorf warna merah marun melingkar di lehernya. Koji Matsushita dan rombongannya tampak memasuki ruangan dan duduk di area VIP. Kesempatan yang tidak saya sia-siakan, segera saya hampiri sang legenda, dan mengajaknya berfoto bersama.

Tepat pukul 15.00 pertandingan dimulai, ruangan mendadak gelap karena lampu ruangan dimatikan. Hanya tersisa lampu sorot yang mengikuti pergerakan orang yang dipanggil announcer. Dengan iringan musik berturut turut announcer memanggil untuk memasuki lapangan. Pertama adalah para wasit yang memimpin pertandingan, kemudian tim tuan rumah, yang terakhir tim tamu, diikuti riuh tepuk tangan penonton.

Dusseldorf menurunkan Timo Boll pada tunggal pertama, Patrick Baum di tunggal kedua, dan Achanta Sharath Kamal tunggal ketiga. Danny Heister, pelatih kepala dari Belanda setia mendampingi di belakang meja. Sementara line up tim tamu TTC Matec Frickenhausen adalah Steffen Mengel untuk tunggal pertama, Wang Yang sebagai tunggal kedua, dan Liang Qiu sebagai tunggal ketiga. Liang Qiu dicomot dari tim Bundesliga2 Frickenhausen karena absennya Koki Niwa. Coach Jiang Xin Qiu siap memberikan arahan di kubu tim tamu.

JALANNYA PERTANDINGAN

Laga pertama dimulai antara Timo Boll melawan Steffen Mengel. Set pertama berjalan cukup menjanjikan bagi Mengel. Hampir selalu unggul hingga penghujung set, namun sayang Mengel harus menyerah 10-12 dari Timo Boll. Set kedua berjalan berat sebelah, Timo Boll terlalu superior untuk Mengel. Dua kali service foul oleh wasit rupanya sangat mempengaruhi mental bertanding Mengel, Juara Nasional Jerman ini menyerah 11-1. Mengel berjuang keras di set ketiga. Reli-reli panjang tersaji, sayang sekali di penghujung set ini wasit kembali memutuskan service foul untuk Mengel. Sempat terjadi argumentasi antara Mengel dan Wasit, akhirnya Mengel takluk 10-12. 3-0 untuk Timo Boll, 1-0 untuk Borussia Dusseldorf.

Partai kedua antara Patrick Baum berhadapan dengan Wang Yang menjadi tontonan yang sangat menghibur. Gaya menyerang Spartan ala Jerman milik Patrick Baum beradu dengan gaya bertahan klasik Wang Yang. Set pertama menjadi milik Wang Yang dengan 9-11, Patrick Baum sepertinya terlihat kesulitan dengan putaran bola bintik panjang Wang Yang. Selepas break set pertama Baum tetap konsisten dengan serangan-serangnnya, namun kali ini lebih banyak diarahkan ke sisi kanan Wang. Hasilnya Baum mampu membalas dengan 11-9. Set ketiga berlangsung sangat seru dengan reli-reli panjang yang membuat penonton menahan napas. Kali ini Baum lebih beruntung, setalah deuce 10-10, Baum berhasil mengakhiri set ini dengan 12-10. Set keempat sepenuhnya menjadi milik Baum karena lebih unggul stamina dari lawannya. Baum selalu unggul dalam perolehan poin, dan mengakhiri perlawanan Wang Yang lebih cepat dari set sebelumnya, 11-7. 3-1 untuk Baum, 2-0 untuk Borussia Dusseldorf.

MATCH BREAK

Pertandingan dihentikan selama 20 menit, saatnya menikmati fasilitas sajian ala buffet untuk tiket VIP. Sementara di arena pertandingan ada kontes adu keras pukulan yang diukur dengan pengukur kecepatan. Pesertanya berasal dari undian penonton yang berminat untuk mengikuti kontes ini dengan membayar €1,-. Disediakan hadiah aksesoris klub serta tiket pertandingan Liga Champion Eropa pada bulan Desember 2013. Partai antara Borussia Dusseldorf melawan raksasa Austria SVS Niederostereich, yang diperkuat duo bintang Austria Werner Schlager dan Chen Weixing.

Defender Legenda Jepang, Koji Matsushita, dok. pribadi

Setelah 20 menit pertandingan dilanjutkan dengan partai ketiga antara Achanta Sharath Kamal melawan Liang Qiu. Harapan tim tamu untuk mencuri poin di partai ini sepertinya sangat tipis. Kamal benar-benar menunjukkan kelasnya. Unggul dari segi pengalaman, teknik, dan fisik, Kamal terus menekan dari awal sampai akhir pertandingan. Hasilnya dengan singkat Kamal menundukkan lawannya 3-0, (11-6, 11-8, 11-9). Pertandingan berakhir dengan kemenangan tuan rumah Borussia Dusseldorf 3-0. Dengan hasil ini mereka tetap menjaga peluang juara di Bundesliga musim 2013/2014, ajang yang telah mereka menangi 25 kali sebelumnya.

POST MATCH INTERVIEW & JUMPA FANS

Selepas pertandingan beberapa wartawan baik media cetak maupun elektronik langsung melakukan wawancara dengan Timo Boll. Saya segera menghampiri sang superstar tenis meja ini untuk meminta foto bersama dibantu salah satu staf klub. Tak lupa juga foto dengan Patrick Baum dan Sharath Kamal. Mission Accomplished, tanda tangan di kayu sudah, foto pun dapat. Selanjutnya staf klub menyiapkan meja dan kursi untuk pemain Borussia Dusseldorf menandatangani poster klub yang sudah disiapkan. Penonton pun mengantri untuk mendapatkan poster bertandatangan tersebut. Turut hadir pada sesi ini, adalah pelatih Danny Heister, Ricardo Walther, dan Christian Suss yang baru saja pulih dari cedera. Saya pun kembali ikut dalam antrian ini, dan merelakan Timo Boll ALC saya dicoret-coret oleh tim Borussia Dusseldorf.

Menyaksikan secara langsung kompetisi profesional tenis meja di negara maju memberikan pelajaran berharga. Dengan manajemen yang baik tenis meja juga bisa menjadi tontonan yang menarik. Dengan nilai komersial yang tinggi, olah raga ini mampu menghidupi para pelakunya. Melihat antusiasme penonton yang datang menyaksikan, rela membayar dengan harga tiket yang tidak bisa dikatakan murah, bagi saya sangat berkesan. Mau tak mau saya membandingkan dengan kondisi tenis meja di tanah air.

EPILOG

Ada satu momen yang membuat saya bergetar ketika menyaksikan pertandingan ini. Pada saat Timo Boll akan melakukan servis untuk pertama kali, ruangan yang tadinya riuh rendah dengan teriakan dukungan dan tepuk tangan, mendadak hening dan senyap. Penonton menantikan poin pertama yang akan didapatkan oleh pemain yang bertanding. Layaknya keheningan pada konser musik klasik atau orchestra, ketika tangan sang konduktor terangkat memberikan aba-aba bagi para pemain musik untuk memulai pertunjukan. Momen inilah yang membuat saya merasa perjalanan penuh “risiko” yang saya tempuh dan biaya yang saya keluarkan seakan mendapat hasil yang sepadan.

Perjalanan ke Dusseldorf kali ini serupa perjalanan spiritual bagi saya. Sebagai pecinta tenis meja, perjalanan ini memberikan kepuasan batin tersendiri. Hadir langsung di hall tenis meja milik klub Borussia Dusseldorf layaknya penggemar sepakbola hadir langsung di stadion-stadion terkenal di dunia. Sebagai pecinta tenis meja, merasakan langsung atmosfir kompetisi profesional pada level tertinggi, menyaksikan langsung aksi pemain seperti Timo Boll, adalah seperti mimpi yang menjadi kenyataan.

Sebagai pemain saya hanyalah pemain tenis meja semenjana. Tetapi sebagai pecinta tenis meja, barangkali inilah cara kerja the law of attraction dari cinta dan passion saya terhadap olah raga ini, kesempatan untuk menyaksikan pertandingan ini. Semoga perjalanan ini bukan perjalanan yang terakhir. Semoga kesempatan untuk menyaksikan event-event tenis meja berkelas dunia akan hadir di masa mendatang, atau justru langsung menjadi penyelenggara. Demikian laporan pandangan mata Bundesliga 2013/2014 langsung dari Dusseldorf, Salam Tenis Meja Mania!!!.

One thought on “MENYAMBANGI MARKAS TIMO BOLL DI JERMAN, SIMAK KESERUANNYA”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *